Inovasi Kemasan dan Produk
Berbagi:

Ato mengakui, perjuangan menembus toko Picnic bukanlah perkara mudah. Selain produk berkualitas yang terbilang mewah, pengemasannya juga sudah terlihat modern pada zamannya. “Bapak tak abis akal dan menawarkan diri agar dodol masuk dengan nama Picnic,” kata dia.

Namun, hal itu merupakan cambuk yang harus dilalui Aam dalam membesarkan Picnic saat itu. Meskipun informasi, teknologi, bahkan jejaring sosial belum secanggih saat ini, tetapi dodol Picnic sudah memulai teknik pemasaran agar pasarnya meluas.

“Saat itu bapak sudah berpikir bagaimana agar kemasan dodol menarik seperti sekarang ini,” kata dia menunjuk kemasan dodol dalam versi mini layaknya produk permen.

Akhirnya, Aam mengubah total pengemasannya. Dodol yang awalnya hanya dibungkus dengan kemasan sederhana dari kertas telur, berangsur membaik dengan sentuhan teknologi terbaru saat itu. “Semuanya dilakukan seorang diri, sebab memang jaringan Bapak belum luas,” kata dia memuji dengan bangga.

Gayung pun bersambut, sang pemilik toko kepunyaan China itu, akhirnya mengizinkan jika nama toko miliknya, digunakan sebagai merk dodol asal Garut tersebut. “Kita bersyukur langsung laku dan mereka terus meminta, kalau sekarang istilahnya franchise lah,” ujarnya.

Untuk menghindari jiplakan pihak lain, mulai tahun 1957 nama merek itu langsung dipatenkan menjadi merek tersendiri. “Pihak toko Picnic tidak mempersoalkan, justu malah mendukung dan berharap kami terus maju,” kata dia.

Ato mengakui kedua sosok paman dan ayah itu, memiliki jasa penting dalam perjalanan dodol Picnic, hingga berkembang pesat seperti ini.

“Sebenarnya ayah saya yang awalnya berguru ke Pak Haji Iton, namun setelah menikah dengan Ibu, meminta ingin mandiri dan langsung didukung,” kata dia, tanpa segan membocorkan sedikit rahasia awal mula kedua kakak-beradik itu berkolaborasi.

Meskipun berbeda dalam hal keseharian, tetapi semangat dan idealisme keduanya, dalam memajukan dodol Picnic sangat berpengaruh. “Istilahnya kalau Pak Haji Iton low profile tidak mau dikenal, nah ayah saya sebaliknya senang berinovasi,” kata dia.

Puncaknya, pada beberapa kesempatan, dodol Picnic pernah menjadi penganan oleh-oleh penumpang di pesawat Garuda, untuk melayani perjalanan ibadah haji jemaah Indonesia ke tanah suci Makkah. “Kalau ekspor ke luar negeri sejak tahun 1970 juga sudah dimulai,” kata dia.

Saat ini, produk dodol yang awalnya hanya tiga varian rasa, sudah berubah menjadi belasan rasa, dengan kemasan yang cukup ciamik dan menarik. “Saya ingin agar dodol itu jangan hanya di Garut tetapi di kota lain yang punya potensi lokal melimpah,” kata dia.

X
Ada Yang Bisa Kami Bantu ?
Powered by