Cara hidup yang dapat berkembang secara bersama dalam suatu kelompok masyarakat secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dimana budaya terbentuk dari beberapa unsur yaitu sistem politik, adat istiadat, agama, bahasa, pakaian, perkakas, karya seni dan karya bangunan.

Hingga saat ini tradisi sudah menjadi hal yang lumrah, seperti  halnnya traveling atau bertamasya ke kota atau Negara lain menjadi hal yang menyenangkan. Selain dapat mengunjungi destinasi wisata menarik, kita juga dapat menemukan ragam oleh-oleh, mulai dari makanan, gantungan kunci hingga kerajinan tangan yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

Hal inilah yang kemudian membuat traveling ibarat sayur tanpa garam, kurang lengkap, jika belum membawa pulang oleh-oleh. Tradisi membawa oleh-oleh ternyata memiliki sejarah panjang, dari zaman dahulu. Oleh-oleh ini tidak terlepas dari proses migrasinya orang-orang atau kaum urban di masa lampau. Sebab, dahulu ketika seseorang bepergian ke suatu tempat, maka dia harus membawa sesuatu yang menjadi ciri khas atau ikon daerah tersebut.

Zaman dahulu, ketika kembali setelah berburu atau melaut, penduduk akan membawa seluruh barang yang didapat ke kampungnya masing-masing. Sedangkan orang yang berperang, ketika menang, mereka akan membawa hasil rampasan perang. Barang-barang ini kemudian dijadikan sebagai oleh-oleh bagi sang pemenang. Benda-benda ini yang kemudian bergeser maknanya dan menjadi identitas dari sebuah kota.

Sebagai bukti nyata, ketika mendengar kata ‘dodol’, tanpa disadari di benak para wisatawan akan merujuk ke suatu daerah di Jawa Barat, yaitu Garut. Merk dodol garut yang paling terkenal dan sudah ada sejak jaman dulu adalah Dodol Picnic.

X
Open chat
Ada Yang Bisa Kami Bantu ?
Powered by